Kamis, 27 September 2012

METODE DEMONSTRASI DAN PRESTASI BELAJAR


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Konsep Metode Pembelajaran
1.      Pengertian Metode
Metodologi berasal dari kata metode, metode secara etimologi berasal dari dua kata yaitu ”meta” dan ”hodos”. Meta berarti ”melalui” dan hodos berarti ”jalan” atau ”cara”. Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. Abd. Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
Sedangkan kata “logi” asal katanya “logos” yang pada akhir kata metode berarti ”gambar” atau “gambaran”. Dari pengertian tersebut diatas maka metodologi maka metodologi adalah ilmu yang menggambarkan berbagai macam cara atau jalan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran.
Salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pembelajaran adalah metode atau cara mengajar. Cara mengajar dalam teori pendidikan, sering disebut metodik. Pada perkembangan berikutnya, istila ini menjadi Metodologi Pengajaran atau Metodologi Pembelajaran.
Dalam suatu proses pembelajaran tentu diperlukan adanya metode yang dapat dijadikan sarana untuk pencapaian tujuan pembelajaran, menurut Dewi Salma Prawiradilaga (2004: 18) bahwa Metode adalah cara-cara atau tehnik yang dianggap jitu untuk menyampaikan materi ajar.
Metode pembelajaran merupakan tehnik penyajian yang dipilih dan ditetapkan seiring dengan pemanfaatan media dan sumber belajar. Selain itu metode sering diterapkan secara kombinasi, tidak tunggal sehingga keterbatasan satu metode dapat diatasi dengan metode lain. Menurut Dewi Salma Prawiradilaga ( 2004:19) Metode pembelajaran secara garis besar dapat dikelompokan kedalam :
a.       Melekat dengan penyajian guru, diantaranya metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab.
b.      Terkait dengan proses belajar seperti belajar kolaboratif, diskusi tim, belajar mandiri, metode proyek, metode balajar berbasis masalah.
c.       Berbasis teknolagi seperti diskusi lewat internet pada kelas maya, tanya jawab baik langsung (synchronuous) maupun tunda (asynchronuous).

Saat ini beberapa metode belajar yang dianggap inovatif terhadap perkembangan kemampun kognitif dan kemandirian pebelajar. Beberapa metode yang dianjurkan untuk digunakan adalah :
a.       Belajar berbasis masalah (problem based learning)         
Metode ini mendorong pelajar untuk memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
b.      Belajar proyek (projeck based learning)
Belajar proyek adalah metode yang melatih kemampuan pelajar untuk melakukan kegiatan di lapangan.


c.       Belajar kolaborasi
Belajar kolaborasi ditekankan agar pelajar mampu berlatih sebagai pemimpin dan membina koordinasi antar teman sekelas.                             Baik media, sumber belajar maupun metode tidak ada yang terbaik atau salah satu mengungguli yang lainnya. Kesemuanya merupakan atau kesatuan yang lain terkait dan saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga tercipta sajian yang maksimal untuk dapat menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik. Bahkan akhirnya akan timbul satu kecocokan antara media, metode dan sumber belajar yang berdampak positif baik bagi anak didik, guru maupun instansi atau sekolah yang bersangkutan.
Bagi seorang guru yang menginginkan pencapaian pembelajaran maksimal, pasti akan berusaha mendesain sebuah Proses Belajar Mengajar dengan baik, mulai dari merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hingga proses analisis hasil evaluasi termasuk di dalamnya adalah pemilihan metode yang tepat terkait dengan materi ajar. Pemilihan metode ini tentunya menyangkut pada kondisi sekolah, siswa dan lingkungan sekolah juga dengan mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia di tempat atau lingkungan yang bersangkutan.
Proses belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor internal peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal yaitu pengaturan kondisi belajar. Proses belajar terjadi karena sinergi memori jangka pendek dan jangka panjang diaktifkan melalui penciptaan faktor eksternal yaitu pembelajaran atau lingkungan belajar. Selain itu para pakar teori belajar membedakan pengetahuan menjadi dua yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan Deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Banyak sekali model-model pembelajaran yang dapat diterapkan diantaranya : training model, active teaching model, mistery teaching, explicit intruction dengan menggunakan berbagai metode diantaranya metode ceramah, diskusi kelompok, tanya jawab, penelitian, demonstrasi dan lain sebagainya.
Penggunaan metode-metode tersebut tentunya harus disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan contohnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang menyangkut tentang ibadah (Wudlu, Sholat, Baca Tulis Al Qur`an, Haji dan lain-lain ) jangan gunakan metode ceramah saja karena siswa akan merasa bingung dan kurang memahami sepenuhnya, sebaiknya gunakanlah metode demonstrasi atau Praktik sehingga anak tahu dan faham gerakan atau cara yang tepat dalam pelaksanaannya.



2.      Metode Demonstrasi Sebagai Strategi Dalam Pembelajaran.
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung.
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut :
a.       Kelebihan Metode demonstrasi :
1)      Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret,         sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat.
2)      Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
3)      Proses pengajaran lebih menarik
4)      Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.
b.      Kekurangan Metode Demonstrasi :
1)      Memerlukan banyak waktu
2)      Banyaknya media/alat yang digunakan
3)      Metode ini akan kurang efektif apabila alat peraga / media kurang memadai.
4)      Metode ini akan sukar dilaksanakan apabila siswa belum matang/siap untuk melaksanakan eksperimen.
Banyak cara untuk mencapai tujuan pembealajaran yang memuaskan siswa sehingga terjadi perubahan belajar dalam dirinya. Cara untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang seirama dengan kondisi siswa, tujuan dan kondisi pembelajaran yang akan dilangsungkan. Untuk pembelajaran tertentu kadang ada metode yang cocok dan ada juga metode yang tidak cocok digunakan. (Suyatno, 2009: 13).
Guru perlu memilih metode pembelajaran yang cocok untuk strategi pembelajaran yang ditetapkan menurut caranya sendiri. Pemilihan strategi pembelajaran dalam rangka membelajarkan siswa harus dibangun atas dasar asumsi bahwa tidak ada satupun metode atau apapun namanya yang dapat digunakan dengan baik untuk semua bahan kajian.
Strategi pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh perancang dalam menentukan teknik penyampaian pesan, penentuan metode dan media, alur isi pelajaran serta interaksi antara pengajar dan peserta didik (Dewi Salma Prawiradilaga, 2004: 37).
Pendapat di atas menunjukan bahwa seorang guru hendaklah memiliki kemampuan berbagai teknik untuk menyampaikan materi dan dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik. Selain itu guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang didalamnya terdapat pendekatan, model dan teknik secara spesifik.
Dijelaskan pula oleh Arthur L. Costa yang dikutip oleh Iryanto, (2007: 129) bahwa strategi belajar merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan.
Sementara itu Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, strategi pembelajaran harus dilakukan dengan jalan olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah raga. Jadi jelas kegiatan pembelajaran bukan hanya penguasaan konsep secara teori tapi juga seluruh panca indra harus dilibatkan.
Kemudian uraian yang lebih spesifik dinyatakan di dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Menurut PP tersebut pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta member ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Strategi pembelajaran dapat dikembangkan secara makro atau mikro. Strategi pembelajaran makro adalah strategi pembelajaran yang diterapkan untuk kurun waktu satu tahun atau satu semester, sedangkan strategi pembelajaran mikro dikembangkan untuk satu Kegiatan Belajar Mengajar. Strategi pembelajaran dilaksanakan melalui:
a.       Pemanfaat media (OHP materials, Program VCD, lingkungan dan seterusnya).
b.      Pemilihan metode (diskusi, belajar kooperatif, praktik dan seterusnya).
c.       Alokasi waktu (satu jam pelajaran, satu semester dan seterusnya).
d.      Alokasi narasumber (guru, ahli materi, master performer dan seterusnya).
Miarso menambahkan selain keempat hal tersebut di atas penentuan strategi belajar juga berkaitan dengan sarana dan biaya yang tersedia. Semakin banyak biaya semakin banyak ketersediaan sarana dan semakin besar pula raihan prestasi belajar bagi anak didik.
Syaeful Bakhri Djamarah (1997) dalam aplikasi strategi pembelajaran aktif dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu:
a.       Bagaimana membantu siswa aktif sejak awal, misalnya strategi tim membangun, penilaian mendadak, dan keterlibatan langsung.
b.      Bagaimana membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang aktif misalnya strategi pembelajaran kelas, diskusi kelas, kolaborasi, dan peer teaching.
c.       Bagaimana membuat pembelajaran yang tidak terlupakan, misalnya review, penilaian diri dan perencanaan masa depan.



Jika kita kaji pendapat seorang ahli teknologi pendidikan yang mengatakan bahwa proses belajar terjadi melalui panca indera, peserta didik dapat menyerap materi secara berbeda. Pengajar mengarahkan agar pemrosesan informasi untuk memori jangka panjang dapat berlangsung lancar.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Magnesen (Drayden dan Vos, 1999:46) belajar terjadi dengan:
1.      Membaca sebanyak 10%
2.      Mendengar sebanyak 20%
3.      Melihat sebanyak 30%
4.      Melihat dan mendengar sebanyak 50%
5.      Mengatakan sebanyak 70%
6.      Mengatakan sambil mengerjakan sebanyak 90%
Pemberdayaan optimal dari seluruh indra seseorang dalam belajar dapat menghasilkan kesuksesan bagi seseorang. Melalui media pembelajaran, belajar paling tinggi terjadi sebanyak 50%. Ternyata seseorangyangbelajar dan terlihat langsung dengan suatu kegiatan atau mengerjakan sesuatu mencapai 90%, maka dianggap sebagai cara yang terbaik dan bertahan lama.
Suyatno (2009: 30) menjabarkan pendapat para pakar yang membagi siswa yang belajar menjadi lima kelompok yaitu Gift, Conseptual, Contextual, slow learnes dan Disabilities.
Dan penelitian Asian Development Bank (2009) menemukan bahwa 60% pembelajar di Indonesia adalah contextual. Siswa yang contextual adalah siswa yang baru dapat belajar kalau guru membantu mengaitkan apa yang dipelajarinya di kehidupan sehari-hari disekitar pembelajaran yang bersangkutan,  pembelajaran harus dilakukan dengan cara memberi siswa kesempatan untuk mengalami sendiri dan berlangsung pada kondisi yang alami.
Melihat dari kenyataan itu adalah tugas bagi seorang guru untuk dapat mengatur strategi pembelajaran dengan sebaik-baiknya, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak guru yang hanya mengajar pada jenjang fakta dan konsep sehingga pembelajaran hanya berkutat pada ceramah saja, siswa tidak pernah diajak untuk menerapkan secara nyata sesuai dengan lingkungannya. Dan pada akhirnya, siswa selamanya tidak mampu melakukan meskipun mereka mengerti.
Penggunaan metode demonstrasi sebagai strategi pembelajaran adalah cara yang tepat karena metode demonstrasi melibatkan indra siswa untuk melihat, mendengar, mengatakan dan melakukan sesuatu sehingga apa yang dilakukan dapat senantiasa terus diingat. Bahkan bila pembelajaran dilakukan sendiri oleh siswa maka mereka akan terus mengingat peristiwa tersebut.
Metode demonstrasi atau yang disebut juga metode praktek adalah salah satu dari banyak metode yang digunakan untuk menyampaika materi pembelajaran dan dianggap memudahkan peserta didik dalam memahaminya.
Metode demonstrasi adalah cara atau teknik yang digunakan untuk menyampaikan materi dengan cara simulasi baik secara individu maupun kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan (Sumardi, S.Pd, 325, 15, www.smeru.or.id, 12 Nopember 2010)
Penggunaan metode demonstrasi diterapkan pada materi-materi yang membutuhkan kecakapan dan ketelitian yang melibatkan anggota gerak pada tubuh kita. Apalagi penerapannya dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam yang berkaitan dengan bab ibadah seperti wudhu, sholat dan sejenisnya. Seorang guru Pendidikan Agama Islam harus menggunakan metode demonstrasi dalam penyampaiannya karena dalam materi wudhu atau sholat terdapat kegiatan yang melibatkan anggota gerak dan harus dilakukan dengan benar, maka harus ada bimbingan seorang yang ahli atau menguasai gerakan-gerakan tersebut dengan sempurna, apalagi hal tersebut terkait dengan syariat islam, maka apabila ada sedikit saja kesalahan baik dalam ucapan atau gerakan maka akan berakibat fatal dan akan dianggap merusaka syariat islam seperti sabda Rasulullah SAW: ”sholatlah (kalian) seperti kau lihat aku sholat (HR. Bukhori)”. Oleh karena itu pemberian materi praktik pada bidang studi Pendidikan Agama Islam merupakan keharusan.
Metode demonstrasi jika diterapkan sebagai strategi dalam pembelajaran sangatlah tepat karena dibutuhkan keterampilan dan ketelitian dalam pelaksanaannya baik saat di sekolah maupun di masyarakat.
Penerapan metode praktek dalam kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai teknik pembelajaran yang dapat dipilih sebagai strategi pembelajaran, yang harus diperhatikan adalah antara guru dan peserta didik dapat bersosialisasi, interaksi, menekan emosi dan hal lain yang diperoleh secara integrasi. Ingatlah bahwa:
a)      Anak belajar melalui belajar (learning by doing).
b)      Anak belajar melalui pancra indra.
c)       Anak belajar melalui bahasa.
d)      Anak belajar dengan bergerak (Suyatno, 2009: 102).
Dengan menimbang pada penjelasan di atas maka metode demonstrasi dapat dikembangkan pada beberapa model pembelajaran seperti learning strategi (strategi-strategi belajar), inkuiri learning, active learning, quantum learning dan lain sebagainya.
Terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam metode demonstrasi sangat cocok dikembangkan dengan model pengajaran langsung. Model pengajaran langsung adalah suatu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses mengajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap selangkah demi selangkah.
Dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam terdapat beberapa materi yang harus dikuasai oleh peserta didik baik secara materi maupun praktek misalnya pada bab sholat. Pada materi tersebut selain harus benar dalam pengucapan juga harus tepat dalam melakukan gerakan. Dengan menggunakan model pengajaran langsung yang menyajikan penguasaan deklaratif yaitu pengetahuan yang dapat diungkapkan dengan kata-kata dan dipadukan dengan pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, dianggap tepat untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran dalam materi terkait.
Terlebih lagi jika dilengkapi dengan langkah-langkah yang tepat dalam pengajaran langsung yang meliputi:
a.       Menyampaikan tujuan
Siswa harus mengetahui dengan jelas mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu.
b.      Menyiapkan siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
c.       Presentasi dan demonstrasi
Menjelaskan atau menginformasikan dengan sejelas-jelasnya materi ajar secara efektif.
d.      Mencapai kejelasan
Memberikan informasi yang jelas dan lebih spesifik kepada siswa.
e.       Melakukan demonstrasi
Memberikan contoh kepada peserta didik agar mereka belajar dan mengamati dengan melihat, yang tujuannya agar tidak terjadi trial and error.
f.       Mencapai pemahaman dan penguasaan
Untuk menjamin agar siswa melakukan gerakan atau tingkah laku sesuai dengan contoh yang diberikan.
g.      Berlatih
Agar gerakan yang didemonstrasikan makin sempurna, maka perlu dilatih berulang-ulang.
h.      Memberi latihan terbimbing
Dalam proses peningkatan kualitas, maka perlu pelatihan disertai bimbingan dari guru.
i.        Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik
Diadakan evaluasi secara terstruktur untuk melihat perkembangan dari hasil belajar.
j.        Memberi kesempatan untuk latihan mandiri    
Pemberian tugas kepada siswa untuk lebih memantapkan materi yang baru didapatnya.
Keberhasilan siswa adalah buah dari baiknya proses pembelajaran yang dikelola dengan baik. Demikian pula dengan materi dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam yang menerapkan metode praktek sebagai strategi dalam penyampaian materi diharapkan akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa baik dari segi teoritis yaitu penguasaan materi maupun praktek yaitu melakukan olah tubuh dengan benar.

B.     Prestasi Belajar Siswa
1)      Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan lain sebagainya). Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan, dalam hal ini tentunya kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan baik formal maupun non formal dari jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Prestasi dapat diraih dengan berbagai cara dan berbagai usaha baik dalam bentuk moril maupun materil, prestasi juga dapat dicapai dengan ketekunan dan kesungguhan dalam melakukan suatu kegiatan atau usaha seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW: ”Barang siapa yang bersungguh (dalam usahanya) maka (dia) akan berhasil.”
Demikian juga dalam hal pendidikan, seorang guru atau siswa dapat prestasi yang baik jika mau melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya jika kita malas untuk melakukan sesuatu maka prestasipun akan sangat sulit diraih.
Sumadi Suryabrata mengatakan bahwa keberhasilan dalam meraih prestasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1.      Faktor keturunan
Jika seseorang itu adalah keturunan dari orang yang sukses maka dia pun akan menjadi orang yang suskes.
2.      Faktor kecerdasan
Seseorang akan meraih kesuksesan apabila dia memiliki kecerdasan baik dalam hal ilmu pengetahuan maupun skill.
3.      Faktor keberuntungan
Seseorang dapat meraih keberhasilan karena faktor keberuntungan tapi hal ini tidak dapat dijadikan patokan karena hanya orang tertentu saja yang mendapatkannya.
Dari faktor-faktor yang tersebut di atas, yang paling banyak menentukan adalah faktor kecerdasan karena kecerdasan dapat dikelola dan dilatih sedemikian rupa oleh yang bersangkutan sehingga dapat menghasilkan prestasi yang diharapkan, selain itu pula kecerdasan dapat membawa seseorang kepuncak prestasi karena seorang yang memiliki kecerdasan cenderung ingin menampilkan kemampuan yang dimilikinya itu secara maksimal dan menunjukan kecerdasannya itu ke khalayak umum sehingga pihak-pihak tertentu dapat mengangkat prestasinya ke dalam ajang kompetisi dan dari situlah akan terlihat setinggi apa prestasinya itu.
Prestasi akan diperoleh dengan adanya keuletan dan ketekunan juga kesabaran dalam melatihnya, karena tidak sedikit orang yang gagal meraih prestasinya hanya karena mereka mudah putus asa dan tidak sabar dalam menjalankan pelatihan atau pendidikan, bahkan ada juga yang merasa pesimis dalam sebelum melaksanakan kompetisi.
Prestasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil evaluasi yang merupakan salah satu dari komponen kegiatan pembelajaran. Dengan adanya evaluasi dapat diketahui apakah materi pelajaran telah tersampaikan dengan baik atau sebaliknya, itulah peranan dari evaluasi. Seperti yang dikemudian oleh Wayan Nurkencana bahwa fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang kita ajarkan dapat kita lanjutkan dengan bahan yang baru ataukah kita harus mengulangi kembali bahan-bahan yang telah lampau.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh W.S. Winkel bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan usaha yang dicapai. Dengan demikian prestasi belajar adalah bukti keberhasilan siswa dalam belajar pada bidang studi tertentu dan pada periode tertentu yang diukur dengan tes (evaluasi) dan dapat dijadikan dalam bentuk angka. Untuk mengetahui prestasi belajar seseorang siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sudah seharusnya seorang guru Pendidikan Agama Islam haruslah mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Dengan evaluasi ini diharapkan guru dapat memperbaiki dan meningkatkan suatu proses belajar mengajar sehingga siswa mampu menguasai materi dan dapat meraih prestasi yang diharapkan.
Prestasi belajar siswa yang dicapai oleh individu merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhi, baik dari faktor internal maupun dari faktor eksternal, jadi prestasi belajar siswa itu merupakan gambaran daripada hasil belajar siswa.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar dan hasil belajar seperti yang dikemukakan oleh Tabrani Rusyana bahwa ada empat faktor yang dapat mempengaruhi proses hasil belajar, yaitu:
1.      Bahan atau hal yang harus dipelajari
Banyak bahan pelajaran, kesulitan dan manfaat bahan pelajaran ikut menentukan hasil belajar. Bahan pelajaran yang terlampau panjang cenderung menimbulkan kejenuhan pada siswa. Taraf kesulitan bahan pengajaran dan kemampuan peserta didik akan mempengaruhi kecepatan belajar.
2.      Faktor-faktor lingkungan
Faktor lingkungan dapat berupa:
a.       Lingkungan alam dan lingkungan fisik
b.      Lingkungan sosial.
3.      Memuaskan instrumental (instrumental input)
Faktor instrumental merupakan faktor yang termasuk pada proses belajar. Bentuknya tergantung pada strategi belajar mengajar dan pada hasil belajar yang diharapkan, wujudnya berupa perangkat keras (gedung, perlengkapan dan sebagainya) dan perangkat lunak (kurikulum, program, pedoman belajar dan sebagainya).
4.      Kondisi individu peserta didik
Dapat dibedakan antara kondisi fisiologis dan psikologis, yang termasuk kondisi fisiologis yaitu keadaan panca indra dan kondisi kesehatan, yang termasuk kondisi psikologis yaitu perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, intelegensia, bakat dan motif.

Sedangkan yang dimaksud hasil belajar adalah ”jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.”
Menurut Abin Syamsudin, bahwa hasil belajar yang sering disebut prestasi belajar, dapat dimanifestasikan dalam wujud:
1.      Pertumbuhan materi pengetahuan berupa fakta, informasi, prinsip atau hukum kaidah prosedur atau pola kerja, teori sistem nilai dan lain sebagainya.
2.      Penguasaan pola-pola perilaku kognitif (pengamatan), proses berfikir mengingat atau mengenali kembali, perilaku afektif (sikap apresiasi,         penghayatan dan sebagainya), perilaku psikomotor (keterampilan-         keterampilan), psikomotorik termasuk yang bersifat ekspresif.
3.      Perubahan dalam sifat-sifat kepribadian yang baik, yang tangible maupun yang intangible.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar siswa adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh oleh siswa dalam suatu proses kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga didapatkan adanya perubahan tingkah laku, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik sebagai hasil belajar siswa yang dapat diwujudkan dalam bentuk angka/nilai.
Melihat uraian dari beberapa tentang prestasi belajar di atas. Maka diketahui bahwa prestasi belajar siswa atau anak didik, baik secara individu maupun kelompok. Disamping itu, juga berguna bagi guru sebagai umpan balik dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga akan mengetahui kesulitan yang dihadapi anak didik dalam keberhasilan atau lancarnya proses belajar mengajar.
Prestasi belajar yang dicapai siswa pada umumnya ditunjukan oleh angka/huruf yang dituangkan dalam buku raport. Buku raport berisi laporan tentang prestasi belajar siswa sebagai hasil belajarnya secara khusus kepada orang tua/wali siswa. Kegiatan laporan ini merupakan salah satu kegiatan administrasi sekolah. Dalam hal ini B. Suryo Subroto, (1998:58) menyatakan sebagai berikut:
Laporan hasil kemajuan belajar yang dikirim kepada orang tua (wali siswa) biasa disebut Buku Raport, buku raport ini dimaksudkan sebagai informasi dari guru (sekolah) perihal keberhasilan anak dalam belajar kepada orang tua mereka masing-masing.
Dengan demikian diharapkan ada tanggapan (feed back) positif dari orang tua untuk meningkatkan lagi kemajuan belajar anak-anaknya. Perubahan perilaku siswa yang diharapkan sebagai hasil belajar yang telah dilaluinya mengindikasikan bahwa proses belajar mengajar mencapai kategori berhasil, kurang berhasil atau gagal. Dalam hal ini Syaiful Bahri Djamaran berpendapat sebagai berikut:
”Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai berikut:
1.      Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik individual maupun kelompok.
2.      Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TPK) telah mencapai olehh siswa baik secara individual maupun kelompok.
Tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal memerlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang diperlukan bagi pencapaian keberhasilan pembelajaran khususnya dalam pendidikan agama islam menurut Chabib Thoha mendefinisikan beberapa aspek tingkah laku siswa sebagai hasil belajarnya. Syarat-syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Keberhasilan belajar pada aspek kejiwaan yang ditunjukkan dengan adanya sikap kematangan yaitu sikap kemandirian.
2.      Keberhasilan belajar pada aspek keagamaan yakni ditunjukkan dengan adanya sikap anak yang positif dalam menanggapi agama islam memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama islam, dan memiliki akhlakul karimah.
3.      Keberhasilan belajar pada aspek kecerdasan ditunjukkan dari baiknya prestasi belajar di sekolah.


2)      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dirinya sendiri (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal), bahkan menurut Muhibin Syah, mengemukakan bahwa faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut.Oleh karena itu, pengalaman guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yang penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Proses pembelajaran yang diikuti oleh siswa diharapkan siswa mampu memahami, menghayati dan mengamalkan materi yang telah dipelajarinya, sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat terhadap setiap aspek pendidikan yang meliputi aspek kognitif (pengetahuan) aspek afektif (sikap) dan aspek psikomotorik (keterampilan).
1.      Aspek kognitif (keilmuan)
Pendidikan agama islam sebagai salah satu mata pelajaran yang diterapkan di lembaga pendidikan sekolah, diharapkan siswa memperoleh materi yang sesuai dengan kurikulum supaya mata pelajara Pendidikan Agama Islam sebagai ilmu pengetahuan yang perlu dihafal, dimengerti dan dihayati.
2.      Aspek afektif (sikap)
Aspek lain yang menjadi objek Pendidikan Agama Islam adalah aspek afektif, aspek ini sedikit sulit untuk menentukan sampai dimana sikap siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, hal ini tentunya dapat dilihat dari informasi orang tua, teman bermain atau dari guru wali kelas. Disamping itu dapat pula dilihat dari gejala yang ada, seperti apabila siswa mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam itu sungguh-sungguh atau berminat besar untuk belajar Pendidikan Agama Islam berarti siswa mempunyai sikap positif terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. 
3.      Aspek psikomotor (keterampilan)
Selain siswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi setelah proses pembelajaran di sekolah, diharapkan siswa mampu untuk menghayati dan mampu untuk mengamalkan hasil belajar dalam bentuk amaliyah yang merupakan salah satu materi yang diajarkan di sekolah dan sasaran inilah yang diharapkan dalam pendidikan siswa mengerti, menghayati dan mampu untuk mengamalkannya.
Tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar telah banyak ditemukan oleh para ahli pendidikan dimana faktor-faktor yang mereka kemukakan cukup beragam, tapi pada dasarnya dapat dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar dan faktor yang datang dari luar diri pelajar atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri pelajar terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan pelajar besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dalam diri pelajar merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi sejauhmana usaha pelajar untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan pelajar, sejauh itu pula hasil belajar akan dicapai.
Meskipun demikian, hasil belajar yang dicapai oleh pelajar masih dipengaruhi oleh faktor yang datang dari luar dirinya yang disebut lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran yang dikelola oleh guru.
Dalam proses belajar mengajar, faktor guru dan murid adalah mutlak. Tidak akan ada proses mengajar kalau tidak ada pengajar dan tidak ada pelajar, maka tidak ada proses belajar. Dalam hal ini, maka guru dan murid berada dalam suatu proses yaitu proses belajar mengajar.
Hasil belajar murid, kemajuan atau kemundurannya ditentukan oleh beberapa faktor sosial, baik yang terdapat di dalam sekolah maupun yang di luar sekolah, seperti bakat anak, kecakapan dan ketangkasan belajar, tuntutan guru, kebudayaan kelompok sebaya, kondisi keluarga atau motivasi. Untuk mendapatkan efisiensi hasil belajar yang optimal, maka perlu diperhatikan berbagai faktor atau kondisi-kondisi yang mempengaruhi proses belajar mengajar.
Adapun faktor-faktor atau kondisi itu antara lain:
1.      Situasi belajar.
2.      Faktor kegiatan, penggunaan ulangan.
3.      Latihan yang sistematis.
4.      Kepuasan dan pengetahuan kemajuan, kemajuan dicapai.
5.      Faktor asosiasi.
6.      Faktor apersepsi.
7.      Faktor kematangan individu.
8.      Faktor minat dan usaha.
9.      Faktor intelegensi.
10.  Penggunaan alat-alat peraga.
11.  Prinsip hukuman dan ganjaran.
12.  Menghindari kesalahan-kesalahan pedagogis.
13.  Transfer dalam belajar.
14.  Bimbingan yang sistematis dari guru.
Sedangkan pendapat Skinner mengajukan tiga prinsip, untuk memperoleh efisiensi hasil belajar yaitu:
1.      Law of Readness (prinsip kesiapan)
Artinya untuk memperoleh efisiensi belajar hendaknya dimulai dengan memperhatikan kesiapsediaan pelajar.
2.      Law of Exercise (hukuman latihan)
Belajar yang efisien hendaknya disertai dengan latihan-latihan yang sistematis dan teratur.
3.      Law of Intersity (hukuman intensitas)
Bila dengan intensitas situasi emosional yang (favorable) akan memperoleh hasil yang besar.

Adapun Carol mengemukakan bahwa, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh :
1.      Bakat belajar.
2.      Waktu yang tersedia untuk belajar.
3.      Waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran.
4.      Kualitas pengajaran.
5.      Kemampuan individu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut:
Ø  Faktor internal siswa
Menurut Slameto, faktor-faktor internal ini dibagi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah (fisiologis), faktor rohaniah (psikologis) dan faktor kelelahan.
a.       Faktor jasmaniah (fisiologis)
1)      Faktor kesehatan
Kondisi umum jasmani clan tonus (tegangan otot) yang memadai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat apalagi disertai pusing-pusing kepala misalnya. Dapatlah menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas.
2)      Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan.

b.      Faktor ruhaniah (psikologis)
Menurut Muhibbin Syah (1995:143), ada lima faktor yang termasuk faktor psikologis siswa antara lain:
1)      Intelegensi siswa
Intelegensi diartikan sebagai kemampuan psikosifik, untuk beraksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-kosep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2)      Sikap atau perhatian siswa terhadap pelajaran
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi. Jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan obyek. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk bereaksi atau merespon (respond tedency) dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, pertanda awal yang baik bagi proses belajar tersebut.
3)      Minat siswa terhadap pelajaran
Minat juga adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu obyek seseorang, suatu soal atau situasi yang mengandung hubungan dengan dirinya. Minat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar seperti yang dikemukakan oleh Usman Efendi dan Juhaya S. Praja adalah bahwa belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat.
4)      Bakat siswa
Bakat atau attitude menurut Hilgard adalah: The capacity to learn. Dengan kata lain bakat adalah kemampuan untuk belajar. Sedangkan secara umum bakat ialah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
5)      Motivasi siswa
Motivasi juga adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan.
6)      Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru. Kematangan bukan berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus, untuk itu di perlukan latihan-latihan dan pelajaran.
7)      Kesiapan
  
c.       Faktor kelelahan
Kelelahan pada seseorang sulit untuk dipisahkan. Kelelahan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu:
1)      Kelelahan jasmani dan Kelelahan rohani (psikis)
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu jadi hilang.
Ø  Faktor eksternal siswa
Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap belajar, menurut Slameto dikelompokan menjadi tiga faktor: a) faktor keluarga, b) faktor sekolah dan c) faktor masyarakat. Sedangkan menurut Muhibbin Syah, faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar siswa itu ada dua macam, yaitu: a) faktor lingkungan sosial dan b) faktor lingkungan non sosial. Dan menurut Abin Syamsudin bahwa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar itu ada empat macam, yaitu: a) faktor sosial, b) faktor budaya, c) faktor lingkungan fisik dan d) fakror lingkungan spiritual dan keagamaan.
Dari ketiga pendapat tadi penulis mengambil pendapat dari Slameto karena lebih luas cakupannya:
a.       Faktor keluarga
1)      Cara orang tua mendidik
Cara orang tua mendidik besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Seperti yang dikatakan oleh Sutjipto Wirowidjojo dengan penyataannya yang mengatakan bahwa: Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan, untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.
2)      Relasi antara anggota keluarga
Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh dengan pengertian dan kasih sayang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman untuk menyukseskan belajar anak itu sendiri.
3)      Suasana rumah
Suasana rumah yang dimaksud sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana anak berada dan belajar.
4)      Keadaan ekonomi
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar. Anak yang sedang belajar itu selain terpenuhi segala kebutuhan pokoknya, misalnya pakaian, perlindungan, kesehatan dan lain sebagainya. Anak juga membutuhkan fasilitas belajar, dan hal itu dapat terpenuhi apabila keluarga mempunyai cukup biaya atau uang.
b.      Faktor sekolah
1)      Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara yang harus dilalui dalam mengajar. Mengajar itu sendiri adalah menyajikan bahan pelajaran oleh seseorang kepada orang lain agar orang lain juga menerima, menguasai dan dapat mengembangkannya.
2)      Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai jumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Menurut Hilda Taba dalam S. Nasution, mengartikan kurikulum sebagai a plan for learning, yaitu suatu yang direncanakan untuk dipelajari anak-anak. Dengan demikian baik atau buruknya hasil belajar ditentukan pula oleh kurikulum.
3)      Guru/pengajar
Guru harus memiliki sifat dan kemampuan profesional sebagai pendidik, dengan bertitik tolak pada kriteria sebagai berikut:
(a)    Dia harus mengerti ilmu mendidik, sehingga segala tindakannya dalam mendidik itu disesuaikan dengan jiwa anak didiknya.
(b)   Seorang guru harus memiliki bahasa yang baik dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.
(c)    Seorang guru harus mencintai anak didiknya, cinta yang mengandung arti menghilangkan kepentinga diri sendiri untuk keperluan orang lain.
4)      Sarana dan prasarana belajar
Selain faktor guru dan metodenya yang baik, juga tidak dilepaskan dari ada tidaknya alat-alat pengajaran atau sarana dan prasarana yang ada. Sebagai alat belajar erat sekali hubungannya dengan cara belajar siswa. Alat pengajaran lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan dan bahan pelajaran yang menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.  
c.       Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh keberadaannya siswa dalam masyarakat. Masyarakat yang terdiri dari orang-rang yang tidak terpelajar, penjudi, dan mempunyai kebiasaannya yang tidak baik akan berpengaruh jelek kepada anak yang berada di sekitar tersebut. Khususnya terhadap belajarnya, sebaiknya jika lingkungan anak adalah orang-orang yang terpelajar yang baik-baik, maka anak akan terbawa dan terpengaruh juga orang-orang yang ada disekitarnya.

d.      Faktor pendekatan
Pendekatan belajar ialah cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
Faktor pendekatan ini juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar misalnya mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang bermutu dari pada siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau reproductive.

C.      Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran.
Dari pengertian di atas dapat dipertegas, bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah dalam kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan penuh rasa kesadaran dan tanggungjawab melalui kegiatan bimbingan, pemahaman dan untuk mengamalkan ajaran agama Islam dengan benar. Demikian pula dengan melaksanakan pendidikan agama Islam juga memperhatikan keberadaan agama lain, memahami toleransi dan saling menghargai demi terciptanya hubungan antar agama yang baik.
Untuk memperoleh keberhasilan seperti diuraikan di atas, kegiatan mengajar harus memiliki tujuan karena setiap kegiatan yang tidak memiliki tujuan akan berjalan tak tentu arah. Tujuan yang jelas akan membuat orang lebih giat, terarah dan sungguh-sungguh. Semua kegiatan harus berorientasi pada tujuannya. Segala usaha dan upaya dalam pengajaran harus dipastikan pada pencapaian tujuan itu. Bahan ajar, metode dan teknik pelaksanaan pengajaran, sarana dan prasarana yang digunakan harus dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran dengan efektif dan efisien.
Oleh karena itu tujuan pengajaran harus berfungsi sebagai:
1.      Titik pusat perhatian dan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pengajaran.
2.      Menentukan arah kegiatan pengajaran.
3.      Titik pusat perbuatan dan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan pengajaran.
4.      Bahan pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup pengajaran.
5.      Pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan kegiatan.
Untuk memudahkan penjelasan bagi siswa atau peserta didik, maka tujuan harus memperhatikan ciri utama tujuan pendidikan pengajaran secara umum yaitu:
1.      Mudah dipahami, dapat dilaksanakan untuk memperluas iman baik isi maupun caranya.
2.      Tidak bertentangan dengan logika dan pertumbuhan rasa keinginan seseorang.
3.      Sesuai dengan umur, kecerdasan dan tingkat perkembangan, keyakinan terhadap ajaran agama islam.
4.      Mendukung terlaksananya ajaran agama yang mudah.


5.      Untuk mencapai tujuan itu tidak menggunakan alat atau penjelasan yang merusak atau mengurangi citra kesucian islam.
6.      Membimbing siswa ke arah sikap yang sehat dan dapat membantu berinteraksi sosial dan memiliki hubungan yang baik dengan anggota masyarakat  lainnya,  mencintai  kebaikan orang lain, suka membantu orang, rasa sayang terhadap yang lemah dan miskin, menganggap semua    orang itu sama, menghargai orang lain dan memelihara hak milik pribadi,  negara dan kepentingan umum.
7.      Membiasakan siswa bersopan santun di rumah, sekolah dan dijalan. Sopan santun berkunjung, berbicara, mendengar pembicaraan orang lain, berdiskusi dan pertemuan umum lainnya. Dengan demikian mereka mengetahui bagaimana hidup dengan tingkah laku yang terpuji di tengah masyarakat lingkungannya.
8.      Membina siswa agar menghargai kerja, meyakini kepemimpinan kerja, baik terhadap individu maupun masyarakat, serta peranannya terhadap peningkatan taraf hidup dan kemajuan bangsa.
9.      Menjelaskan pada mereka bahwa tahayul-tahayul dan kebiasaan yang negatif dan tersebar di masyarakat bertentangan dengan ajaran agama dan menghambat kemerdekaan berfikir.
10.  Siswa merasa bangga dengan warisan kebudayaan islam, kemegahannya yang abadi, kepahlawanan, kepemimpinan pemimpin islam dan karya-karya mereka diwaktu perang ataupun damai. Sehingga mereka ingin mengenal dasar sejarah para pahlawan yang menyisakan contoh teladan dan kemerdekaan.
11.  Menyadari bahwa ikatan yang baik pada Rasulullah dan sejarah para sahabat. Guru memiliki tanggungjawab yang besar dalam cara menyajikan materi ini kepada siswa. Dengan gaya bahasa yang mampu menyita perhatian mereka, baik melalui cerita maupun bercakap-cakap. Guru membutuhkan keahlian yang dapat membuat mereka mau mengambil suri tauladan dari sejarah Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau-beliau untuk pengalaman hidupnya.
12.  Menjelaskan kedudukan jihad di jalan Allah, dalam mengembangkan ajaran agama, membela hak milik dan tanah air kaum muslimin. Bagaimana Rasulullah secara terus menerus menjalankan dakwahnya, berjuang melawan orang-orang musyrik, yahudi dan golongan orang munafik hingga islam berkembang pesat. Bagaimana pula cara beliau mamaparkan hukum-hukum islam di jazirah Arab. Kesemua itu ditanamkan di dalam peserta didik, rasa cinta kepahlawanan, keinginan mengikuti rosul, rela berjihad demi membela bangsa, tanah air dan menegakkan agama Allah.
13.  Memperkuat rasa nasionalisme yang tercermin dalam kecintaan tanah air, loyal, siap berkorban, memelihara kemerdekaan dan memahami bahwa itu semua merupakan prinsip-prinsip agama islam.
14.  Siswa mengetahui bahwa agama islam adalah agama ketertiban, persaudaraan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa walau berbeda keyakinan, warna kulit maupun tanah air.
Tujuan pendidikan agama islam merupakan refleksi dari ajaran agama islam yang terkandung dalam maksud-maksud syari’ah (muqosid as syariah) yang terdiri dari berbagai alasan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup yang pokok, yang sifatnya dunia yaitu sesuatu yang mesti ada dalam kehidupan normal misalnya (1) Agama keyakinan dan aqidah serta amalan dan ajarannya, (2) Keselamatan jiwa dan raga, (3) keturunan anak cucu, (4) harta, (5) akal dan kehormatan.
Tujuan pendidikan agama islam juga berorientasi pada upaya melengkapi dan menyempurnakan hidup, sehingga keperluan mudah didapat, kesulitan dapat diatasi dan dihilangkan. Mewujudkan keindahan, ketertiban, kesempurnaan, menambahkan intim pergaulan, berpakaian yang bersih, serasi dan pantas untuk mengerjakan ibadah..
Melihat dari teori-teori yang diungkapkan di atas ternyata sesuai dengan kondisi yang ada di SDN 2 Cisaat. Prestasi belajar siswa di SD Negeri 2 Cisaat dinilai cukup baik, terbukti dengan banyaknya penghargaan yang didapat dari even-even baik tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten termasuk di bidang keagamaan. Namun demikian prestasi yang diraih itu lebih banyak dari segi pengetahuan teoritis sedangkan prakteknya masih harus ditingkatkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar